Minggu, 18 Agustus 2013

Sinopsis I give my first love to you part 1

Thanks to: Elang Kelana


Kehidupan cintaku memiliki batas waktu . . . Hal ini jauh lebih pendek daripada yang lain. Jadi aku tak akan menyia-nyiakannya. Aku harus bersinar terang, seperti kembang api di langit musim panas.

Di usianya yang ke delapan tahun, Kokunouchi Takuma (Masaki Okada) mengetahui kalau dirinya memiliki kelainan jantung. Takuma belum benar-benar mengerti arti “mati” yang dikatakan oleh dokternya, dr. Taneda (Toru Nakamura). Yang ia tahu, kalau sejak saat ini ia harus banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Belum lagi dengan berbagai pengobatan yang harus ia jalani yang membuatnya tidak bisa banyak bergerak.
Untungnya ia bertemu dengan seorang gadis yang usianya sebaya dengannya, namanya Taneda Mayu (Mao Inoue). Mayu adalah putri tunggal dr. Taneda. Semenjak ibunya meninggal, Mayu sering ikut ayahnya ke rumah sakit. Pertemuan mereka inilah yang jadi awal cerita.
Mayu kecil sedang bermain di rerumputan dekat rumah sakit. Saat itu Takuma yang sudah diijinkan keluar dari ruang perawatannya mendekat.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tegur Takuma.
Mayu yang mendengar seseorang mendekat menghentikan kegiatannya, “Apa kau tidak tahu? Jika aku membuat permohonan pada dewa empat daun semanggi, maka itu akan menjadi kenyataan.” Mayu kembali menekuni kegiatannya mencari daun semanggi berkelopak empat. (Daun semanggi umumnya berkelopak tiga, kelopak empat sangat jarang ditemui. Karena itulah daun semanggi berkelopak empat istimewa, red)
“Aku tidak pernah mendengar itu sebelumnya,” komentar Takuma. “Hei, apa yang akan kau minta kalau aku menemukan daun semanggi berkelopak empat?”
“Diamlah! Aku benci tidak bisa bermain denganmu,” balas Mayu.
“Aku . . . aku ingin meminta, untuk menjadi astronot saat dewasa nanti. Kemudian, aku akan menikah dengan Mayu,” Takuma berkata masih sambil mencari-cari daun semanggi berkelopak empat. “Ah, Mayu-chan aku menemukannya!” ucap Takuma girang.
Mayu yang tidak kalah girang langsung mendekat ke arah Takuma. Ia berlutut di depan daun semanggi berkelopak empat itu, “Dewa daun semanggi, tolong selamatkan Takuma. Jangan biarkan Takuma mati, biarkan kami bersama! Aku mohon! Aku mohon!” Mayu menangis.
Takuma yang tidak tega melihat Mayu menangis mendekatinya. Ia berniat menghibur Mayu. Dan Takuma kecil . . . mencium Mayu (omoooo . . .  tepat di bibirnya, kekekeke)
Mayu-chan, pada saat itu aku tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksud benar-benar mati.
Hari berikutnya . . .
Dokter Taneda berniat membangunkan putrinya. Tapi betapa kagetnya dokter Taneda kerena Mayu putri kecilnya itu merusak tirai jendela hanya untuk membuat . . . gaun pengantin.
“Mayu?!”
“Aku senang sekali, Takuma melamarku!” jawab Mayu girang.
Takuma kecil duduk di salah satu taman rumah sakit. Kali ini ia tidak bersama Mayu. Sekelompok anak sedang bermain sepak bola di depan Takuma. Ketika bola itu jatuh di dekat Takuma, ia mengambilnya. Takuma tersenyum memandangi benda bundar itu.
“Takuma, bertahanlah!” ucap seorang suster yang mendorong ranjang Takuma.
“Ada apa?” dokter Taneda mendekat.
“Takuma bermain bola,” jawab si suster.
“Apa?! Bukankah ia tahu kalau itu dilarang?” dokter Taneda bersama perawat yang lain lalu memberikan pertolongan pada Takuma.
Beberapa tahun kemudian . . .
“Bagaimana keadaanku?” Tanya Takuma yang sudah beranjak remaja.
“Keadaanmu baik-baik saja. Semuanya stabil. Tapi ingat, jangan langgar pantanganmu,” pesan dokter Taneda selesai memeriksa Takuma.
“Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan melanggar pantangan dan selalu minum obatku. See ya,” Takuma keluar dari ruangan dokter Taneda.
Dokter Taneda memandangi pasiennya satu itu. Ia mendesah pelan, “Dia sudah besar huh?”
Takuma berjalan keluar dari rumah sakit. Ia melewati sebuah kuil dan taman. Takuma berhenti sejenak memperhatikan seorang gadis yang sebaya dengannya sedang bersandar di pagar sambil memasang headset di telinga.
Takuma mendekat dan menegurnya. Ternyata gadis itu adalah Mayu kecil yang telah bertransformasi menjadi seorang gadis cantik. Takuma dan Mayu pulang bersama. Sepertinya mereka telah benar-benar menjalin cinta dan menjadi sepasang kekasih.
Di sekolah, bukannya mengikuti pelajaran, Mayu malah asyik menggambar kartun si guru di buku tulisnya. Mayu benar-benar malas.
“Ya kau Mayu, coba terjemahkan kalimat di papan tulis ini,” pinta sang sensei.
Mayu kaget. Ia pun langsung berdiri. Tapi karena memang sejak tadi ia tidak memperhatikan pelajaran, Mayu tidak tahu harus berkata apa. Mayu melirik ke arah Takuma yang duduk di bangku sebelahnya, “Takuma, tolong aku,” pintanya.
Takuma yang tidak tega akhirnya membantu Mayu. Ia menerjemahkan kalimat berbahasa inggris di papan tulis dan mengatakannya dengan berbisik pada Mayu. Dan Mayu . . . atas bantuan Takuma ia berhasil menjawab pertanyaan sang sensei.
“Bagus Takuma. Kalimat ini memang tidak mudah. Karena akan diajarkan lagi nanti di SMA. Dan kau Mayu, berhentilah mengandalkan Takuma, kau mengerti?” puji sensei yang sekaligus menjatuhkan Mayu.
Mayu hanya mendesah kesal atas peringatan senseinya itu. Sementara Takuma, tersenyum kecil sambil memandang ke arah Mayu.
Jam olahraga . . .
Selain cantik, Mayu juga ternyata cukup baik dalam olahraga. Ia bermain basket dengan teman-temannya. Berkali-kali juga ia berhasil mencetak angka dan membuat timnya kemudian memenangkan pertandingan. Mayu menjadi salah satu pusat perhatian banyak siswa laki-laki.
Sementara Takuma? Ia tetap tidak diijinkan melakukan kegiatan berat. Bahkan termasuk olahraga. Akhirnya selama jam olahraga Takuma hanya duduk sambil menonton. Ia begitu kagum dengan Mayu yang tengah mendrible bola dan hendak menembakkannya ke ring.
Selepas jam olahraga, anak-anak keluar dari gedung olahraga. Mayu dan teman-teman wanitanya yang lain tengah berjalan hendak menuju ruang ganti ketika beberapa anak laki-laki iseng mendekatinya. Dan . . . byurrr !!! Anak-anak iseng itu menyiram Mayu dengan seember air.
“Maaf, kami tidak sengaja,” ucap si anak nakal kemudian.
“Ah ya, maaf. Ooooh lihat, warnanya pink!” seru yang lain.
Mayu kaget dengan kejutan tidak sengaja itu. Ketika sadar apa yang dimaksud ketiga anak nakal tadi, spontan Mayu menutupi tubuhnya dengan tangan dan berjongkok. Mukanya merah padam menahan geram sekaligus malu.
Takuma yang mengetahui hal itu mendekat dan memberikan jasnya kepada Mayu yang masih jongkok melindungi tubuhnya. Tanpa babibu Takuma kemudian memukuli anak-anak yang tadi mengerjai Mayu. Sementara itu anak-anak lain hanya memandangi mereka tanpa berani melerai. Akhirnya Mayu yang turun tangan melerai mereka.
Karena perkelahian tadi, Takuma harus beristirahat di ruang kesehatan. Ia ditemani Mayu. Mayu protes kalau hal yang tadi dilakukan Takuma saja saja seperti bunuh diri.
“Kau kan pacarku. Tapi kenapa malah mereka yang pertama melihatnya? Seharusnya kan aku,” Takuma merajuk. (omo . . . doski ternyata cemburu karena yang pertama melihat b** Mayu bukan dia)
Mulanya Mayu bingung, tapi kemudian ia paham maksud Takuma. “Biaklah, aku akan membirkan kau menjadi yang pertama,” ucapnya sambil menutup tirai ruang kesehatan. “Tapi kau harus janji, tidak akan bersikap konyol seperti tadi lagi,” Mayu kemudian melepas jas Takuma yang sejak tadi dikenakannya. Perlahan ia menarik kaosnya ke atas.
“Tunggu! Tunggu dulu. Ini . . . sakit, tapi tidak seperti serangan jantung,” Takuma memegang dada sebelah kirinya.
“Kalau begitu, tidak jadi. Ini hanya akan menjadi kebahagiaan yang membunuh,” Mayu mengurungkan niatnya melepas kaos atasnya lalu berlari. Takuma kemudian mengejar Mayu yang beranjak dari ruang kesehatan.
“Nilai-nilaimu memuaskan, kau bisa mendaftar di sekolah manapun yang kau suka. Jadi kau akan mendaftar di SMA Shido?” Tanya senseinya.
“Iya,” Takuma menjawab mantap.
“Apa kau sudah membicarakannya dengan orang tuamu?” Tanya sensei lagi.
“Itu akan kulakukan,” Takuma.
Sepulang sekolah, Takuma menceritakan rencanya pada kedua orang tuanya. Kontan saja mereka berdua kaget dan melarang Takuma pergi. Tapi Takuma berkeras untuk pergi. Ia ingin menikmati masa mudanya yang singkat itu.
Ibu Takuma mendatangi rumah Mayu. Ia berpikir kalau Takuma ingin masuk SMA Shido karena Mayu.
“Jadi dia akan pergi? Aku sama sekali tidak tahu. Dan untuk anak yang prestasinya seperti aku ini, SMA Shido tidak mungkin . . . “ ucapan Mayu menggantung.
Di kelas, gentian Takuma yang memancing-mancing Mayu. Ia ingin tahu kemana nantinya Mayu akan melanjutkan sekolah. Tapi Mayu mengatakan kalau ia tidak akan melanjutkan. Mayu pura-pura tidak bertanya dan tidak tahu kemana Takuma akan melanjutkan selepas SMP ini. (ga usah heran, bener banget. Jadi mereka berdua ini sekarang statusnya adalah anak kelas 3 SMP)
Hari kelulusan . . .
Takuma merayakan kelulusan ditemani kedua orang tuanya. Sementara Mayu, ia sendirian karena ayahnya masih sibuk di rumah sakit. Mayu bergegas pulang bersama teman-temannya yang lain. Sementara itu Takuma mengejarnya.
“Hei, kau mau kemana setelah ini?” tegur Takuma.
“Mungkin aku akan pergi kerja di atas perahu memancing di laut,” jawab Mayu santai.
“Kau tahu, itu tidak realistis!” protes Takuma. “Mayu, apa rencana kamu?’ desak Takuma lagi.
“Aku akan pulang.”
“Tidak, maksudku dari sekarang.”
“Aku akan memikirkan sesuatu. Bye,” Mayu berlalu meninggalkan Takuma.
“Selamat tinggal. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak sanggup untuk memberitahu kamu selamat tinggal. Jadi aku bertindak seperti pengecut,” Takuma bergumam sendiri melepas kepergian Mayu kali ini.
Di rumah pun, ternyata Takuma belum benar-benar rela berpisah dengan Mayu. Ia memandangi foto-foto saat ia bersama Mayu. Takuma menangis.
Hari pertama sebagai siswa SMA. Takuma berangkat sendiri, tapi orangtuanya berkeras untuk mengantarkannya. Akhirnya Takuma mengalah dan membiarkan kedua orang tuanya itu mengikutinya. Takuma datang ke sekolah dengan penampilan baru, rambut keritingnya.
Acara pertama adalah pengarahan dari pihak sekolah. Waktu berjalan perlahan, apalagi ketika kepala sekolah memberikan pidato penyambutan. Berkali-kali Takuma menguap menahan kantuknya. Ia melihat sekeliling. Ternyata tidak ada satupun teman yang ia kenal. Acara selanjutnya adalah sambutan perwakilan siswa baru. Dan ternyata diwakili oleh siswa dengan ujian masuk terbaik tahun ini . . .  Taneda Mayu. Takuma kaget bukan main. Apalagi saat ia melihat gadis yang ia kenal itu berjalan dengan tenang menuju podium.
Mayu berdiri di podium, lalu melihat sekeliling. Ia mencari Takuma, “Takuma! Ada kamu! Kaget, kan? Kamu tidak dapat menyingkirkan saya dulu! Aku belajar begitu keras! Sepuluh tutor datang untuk membantu Aku belajar! Sekarang lihat aku. Aku lulus dengan nilai tertinggi, tapi kamu . . . hanya siswa biasa. Kau b******k Takuma! Beraninya kau meremehkan aku!” bukannya memberikan pidato sambutan, Mayu malah mencerca Takuma di hadapan seisi sekolah.
“Aku tidak pernah meremehkanmu!” Takuma yang tidak terima akhirnya angkat bicara.
“Kau tidak tahu perasaanku! Aku tidak bercita-cita masuk SMA. Aku ingin belajar memasak dan hal-hal lain untuk menjadi wanita. Aku akan menunggu hingga usiamu 18 tahun. Apa kau lupa janji kita?!” Mayu masih saja terus menumpahkan kekesalannya pada Takuma.
Karena sudah melampaui batas, akhirnya pihak sekolah memaksa Mayu untuk turun dari podium. Mereka menyeret Mayu yang memberontak tidak mau diajak turun dari podium.
Akibat peristiwa ini, seisi sekolah tahu hubungan Takuma-Mayu. Dan ketika di luar kelas pun, Mayu masih saja terus lengket pada Takuma. Tentu saja Takuma kesal dengan ulah Mayu. Tapi sekeras apapun Takuma menolak, itu malah membuat Mayu semakin lengket padanya.
SMA Shido adalah SMA dengan asrama untuk putra dan putri. Baik Mayu maupun Takuma tinggal di asrama masing-masing. Takuma sekamar dengan temannya yang bernama Ritsu Sugiyama. Sedangkan Mayu sekamar dengan Yuiko Tamura.
Kehidupan sekolah dimulai. Selain sekolah, anak-anak juga disibukkan dengan berbagai aktivitas di luar kelas. Mayu mengikuti klub panahan Jepang. Dengan lincah dan tenang, Mayu melepas anak panah dan tepat mengeni sasaran.
Tanpa diketahui, Takuma dan Sugiyama ternyata melihatnya dari luar pagar tempat latihan. Sugiyama memuji Mayu yang tampak trampil dan cantik dengan pakaiannya.
“Dia sebenarnya berbakat. Tapi selama ini dia sudah membuang-buang waktu untuk terus saja membuntutiku,” komentar Takuma.
Mayu sadar kalau Takuma dan temannya memperhatikan ia dari luar tempat latihan. Tanpa ragu, Mayu langsung mengumbar senyumnya dan bertingkah. Akibatnya ia ditegur oleh seniornya agar tidak mengganggu latihan. Sementara itu Takuma dan Sugiyama hanya tersenyum melihat ulah Mayu.
Hari ini jadwal Takuma untuk control di rumah sakit. Seperti biasa, ia ditemani Mayu. Tapi ketika diperiksa, hanya tinggal dokter Taneda dan Takuma di ruangan.
“Dokter, Aku punya pertanyaan. Berapa banyak latihan yang bisa kulakukan?” Tanya Takuma pada dokternya.
“Apa maksudmu?” dokter Taneda bertanya balik.
“Dapatkah Aku melakukan olahraga yang tidak memerlukan berjalan? Sebagai contoh ... panahan Jepang.”
“Panahan?” dokter Taneda tampak berpikir.
“Atau seks . . . “ lanjut Takuma.
Dokter Taneda keget dengan pertanyaan pasien di depannya itu, apalagi usianya baru 16 tahun. Bahkan pensil di tangannya pun sampai patah. Hampir dokter Taneda melayangkan pukulan ke arah Takuma, tapi diurungkannya hal itu, berhasil mengendalikan diri. “Kamu berencana melakukan dengan siapa?’
“Oh, Aku tidak bermaksud dengan Mayu. Aku tidak akan melakukannya dengan putrimu. Aku bertanya karena aku tidak paham,” ucap Takuma polos.
“Itu tergantung, tetapi bisa cukup berat. Bukan sebagai ayah, tapi sebagai dokter, Aku tidak akan merekomendasikan hal ini,” ucap dokter Taneda kemudian.
“Aku rasa begitu. Seorang pria yang tidak bisa berhubungan seks tidak bisa menikah dengan siapa pun,” Takuma bergumam pelan. Ia kemudian beranjak pergi setelah pamit dengan dokter Taneda.
Sementara dokter Taneda melihat kepergian Takuma dengan sedih. Ia tahu apa yang dipikirkan anak itu, masa depannya dengan Mayu.
Mayu dan Takuma keluar dari ruang periksa. Tidak sengaja mereka bertemu dengan teman kecilnya sesama penderita kelainan jantung, Teru. Teru dan Takuma mengobrol di taman tidak jauh dari rumah sakit. Ternyata Teru harus kembali ke rumah sakit karena sekarang usianya hampir 20 tahun. Ia masih menunggu donor jantung. Sementara Takuma dan Teru mengobrol dengan akrab, Mayu memisahkan diri. Ia tampak sanga cemburu pada Teru.
Di lain kesempatan, Takuma kembali membolos dari sekolah. Ia pergi ke rumah sakit, tapi bukan untuk control. Takuma menemui Teru. Takuma juga membawakan sebuket bunga untuk Teru. Keduanya merasa dekat karena senasib, memiliki kelainan jantung dan bertahan hidup hanya untuk menunggu adanya donor jantung.
Sementara di sekolah, Mayu kesal karena Takuma membolos. Ia keluar kelas dan ternyata ditabrak oleh teman seangkatannya yang bernama Suzuya Kou. Rupanya Kou inilah secret admirernya Mayu.
“Maaf. Apakah kamu baik-baik saja? Kamu Taneda Mayu kan? Aku Suzuya Kou. Senang sekali bertemu dengan kamu. Putri, mari kita bersama-sama menikmati kehidupan sekolah,” Kou melancarkan rayuannya pada Mayu.
Adegan ini menarik perhatian anak-anak yang sedang lewat di lorong sekolah. apalagi Kou adalah salah satu siswa populer yang menjadi incaran banyak anak perempuan. Tapi Mayu tidak tertarik dengan rayuan Kou. Mayu berusaha melepaskan diri dan pergi meninggalkan Kou yang masih berlutut di lorong sekolah diiringi tatapan tidak suka dari anak-anak yang lain.
Takuma baru kembali ke asrama malam hari. Ternyata ia bertemu Kou yang tengah dijenguk oleh ibunya. Tadinya Takuma tidak terlalu memperhatikan, sampai Kou mengajaknya bicara.
“Aku mendengar kamu memiliki gangguan jantung. Sejak kapan?” Tanya Kou.
“Siapa kau? Pergilah, jangan ikut campur urusanku,” ucap Takuma sambil beranjak pergi.
Tapi Kou menahannnya dan mengajaknya bicara, “ Aku pernah tahu seseorang yang mengalami kondisi yang sama denganmu. Orang itu meninggal. Dia terus menunggu donor, seperti kamu mungkin, tetapi tidak berhasil dan dia meninggal.  Dia adalah ayahku. Sekarat dari penyakit jantung langka.”
“Aku tidak tertarik pada orang mati,” ucap Takuma ketus.
“Aku tidak membahas hal itu. Ibuku, yang ditinggalkannya masih terus merindukannya sampai sekarang. Dan sekarang, cewek yang aku sukai ternyata punya pacar orang yang memiliki penyakit sama dengan ayahku. Bila kamu meninggal, dia tidak akan pernah berhenti menangis. Jadi untuk mencegah hal itu, lebih baik lepaskan dia sekarang. Alasanmu datang ke sekolah ini, untuk putus dengannya kan? Jadi lakukan saja,” ucap Kou sambil beranjak pergi meninggalkan Takuma sendirian.
Takuma memikirkan ucapan Kou. Dulu ia ingin sekolah ke SMA Kou pun dengan alasan yang sama, ingin putus dengan Mayu. Tapi ternyata Mayu terus mengikutinya. Hari berikutnya, Takuma memandangi Kou yang lincah berlari di lapangan dan menjadi favorit gadis-gadis. Takuma miris melihat pemandangan itu dan beranjak pergi.
Di hari lain Takuma kembali membolos sekolah. Ia kepergok Mayu ketika akan melompati pagar. Mayu mengingatkannya kalau ia akan melapor pada sekolah. tapi Takuma mengacuhkannya dan tetap pergi.Takuma kembali menemui Teru di rumah sakit.
“Kamu sangat beruntung memiliki seorang gadis cantik di sisi kamu. Aku tidak punya siapa pun. Aku tidak pernah dalam suatu hubungan pada usia ini. Jika Aku mendapatkan transplantasi jantung, aku akan mendapatkan bekas luka yang lebih besar di dadaku dan tidak ada seorangpun yang ingin melihat itu. Aku tidak akan pernah dalam suatu hubungan . . . “ Teru mulai bercerita.
“Jangan bicara seperti itu. Tidak penting, kamu benar-benar cantik, Teru,” Takuma mencoba menghibur Teru.
“Takuma, maukah kau menciumku? Aku belum pernah jatuh cinta, jadi aku tidak pernah mencium. Aku . . . tidak ingin mati seperti itu,” Teru beranjak dari ranjangnya dan mendekati Takuma. Teru pun mencium Takuma, ciuman yang tidak bisa ditolak Takuma. “Aku malu untuk mengatakan, itu ciuman pertamaku,” aku Teru malu-malu.
Takuma kembali ke sekolah. Ia merenung sendiri di menara astronomi. Takuma merasa bersalah pada Mayu, tapi sekaligus tidak tega pada Teru yang bernasib lebih buruk darinya. Mayu yang tidak sengaja melihat kedatangan Takuma menyusulnya ke menara astronomi.
“Apakah kamu di rumah sakit sepanjang hari?” selidik Mayu.
“Ya, dengan Teru.” Takuma terdiam cukup lama sebelum memulai kembali kalimatnya. “Teru dan aku . . . kami berciuman. Aku tidak bisa menghindarinya. Dan . . . “
“Bodoh! Hanya karena dia cantik kau . . . “ Mayu menahan geram atas pengakuan Takuma.
“Bukan itu alasannya,” potong Takuma cepat. “Dia bilang tidak ingin mati. Dia masih menunggu untuk transplantasi. Aku tidak tega membiarkannya seperti itu.”
“Ternyata kau seperti itu . . . “ Mayu semakin kesal.
“Kalau begitu, ayo putus,” ucap Takuma kemudian.
Mayu hanya bisa terdiam mendengar ucapan Takuma satu itu.
Bagimana kisah Takuma - Mayu selanjutnya? Apa mereka benar akan putus dan melepaskan kenangan masa kecil mereka begitu saja? To be continue at part 2 . . . see ya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar